Menyatu dengan Perang Suku di Papua

Pagi kian beranjak siang. Di sebuah dataran luas di antara pegunungan hijau, puluhan orang telah berkumpul. Tiap orang menggenggam senjata tajam atau panah, lengkap dengan segala atribut perangnya. Kesan garang terlukis jelas dl wajah-wajah mereka. Sebuah perang suku bakal pecah di Lembah Baliem, Papua. Betul saja, setelah mengatur strateginya masing-masing, perang tak dapat dihindari. Kedua kelompok saling mengejar dan melepaskan anak panah. Sambil mengacung-acungkan senjata di tangannya, mereka terus berteriak-teriak untuk membakar semangat. Sementara wanita dan anak-anak berlarian untuk menyelamatkan diri.

Anda pasti sepakat, kejadian itu sudah pasti sesuatu yang amat menyedihkan. Tapi anehnya, saat menyaksikan peristiwa di atas, perasaan yang muncul justru sebaliknya. Lho kok bisa gitu? Sebab, perang yang tampaknya beringas itu sebenarnya bukanlah perang sungguhan, melainkan sebuah tari atau tepatnya simulasi perang yang menjadi bagian atraksi yang diperagakan oleh Suku Dani dalam acara Festival Budaya Lembah Baliem di Wamena, Papua.

https://i0.wp.com/liburan.info/images/stories/papua.jpg

Membentang di antara lekukan-lekukan Pegunungan Tengah Jayawijaya, Lembah Baliem sudah sejak lama menjadi tempat penyelenggaraan festival budaya tahunan terbesar di tanah Papua ini. Di lembah inilah, masyarakat Suku Dani hidup harmonis dan menyatu dalam pelukan pegunungan yang mengelilingnya serta alam Papua yang indah menawan. Selain sebagai ‘rumah’, Lembah Baliem kerap menjadi arena perang oleh suku-suku yang bertikai dan menjadi arena pembantaian mereka yang berperang demi kejayaan suku yang dibanggakannya.

Keberadaan Lembah Baliem sendiri baru muncul ke permukaan pada tahun 1930-an dengan adanya laporan yang menyebutkan bahwa terdapat sekelompok suku-suku primitif yang hidup di lembah itu. Sekitar 10 tahun kemudian, lembah yang terisolasi dari pengaruh asing ini makin dikenal oleh dunia luar, setelah majalah National Geographic menempatkan lembah ini di peta dunia pada majalah terbitannya.

Hal ini juga menandakan untuk pertama kalinya lembah sepanjang 80 km dan lebar 20 km ini masuk dalam peta dunia. Sejak itu pula banyak orang yang penasaran untuk mendatangi Lembah Baliem untuk mempelajari berbagai hal yang berkaitan dengan lembah ini. Mereka umumnya berprofesi sebagai social worker, seperti guru, perawat, dokter, serta misionaris yang menyebarkan agama Nasrani.

https://i0.wp.com/liburan.info/images/stories/papua1.jpg

Bukan War-a-holic

Sudah sejak dulu, perang menjadi sesuatu yang tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Suku Dani serta suku lain di Papua. Bagi mereka, perang memiliki beberapa makna yang dalam. Selain sudah menjadi tradisi turun temurun, perang dianggap bukan sekedar ajang untuk saling adu kekuatan antarsuku saja, tapi juga lambang kesuburan dan kesejahteraan. Artinya, bila tak ada perang maka jangan harap panen dan ternak babi akan berhasil dan sehat. Kalau sudah begini, mereka pun harus bersiap diri untuk menghadapi musim paceklik.

Di sisi lain, perang juga menjadi ajang untuk mencari popularitas sebuah suku. Dengan memenangkan perang, nama suku akan makin terkenal dan ditakuti oleh suku-suku lain. Sedangkan bagi para pemuda, perang suku dianggap sebagai ajang mencari jati diri untuk menjadi manusia sejati, ulet dan bermartabat demi kemajuan wilayahnya, baik sekarang dan masa depan. Pecahnya perang di kawasan ini sendiri disebabkan oleh beberapa hal yang kebanyakan karena masalah sengketa batas wilayah, wanita, atau karena wim (hewan piaraan).

Bila perang akan terjadi maka Lembah Baliem-lah arena yang kerap digunakan. Ini bukan berarti suku-suku itu war-a-holic atau selalu mencari keributan. Karena sesungguhnya, mereka pun ingin hidup damai dan tentram seperti masyarakat lain agar bisa membangun wilayahnya.

https://i0.wp.com/liburan.info/images/stories/papua2.jpg

Ragam Atraksi Menarik

Sejak digelar pertama kalinya pada tahun 1991, atraksi tari perang atau dim dalam bahasa Suku Dani, menjadi atraksi utama pada setiap pelaksanaan Festival Budaya Lembah Baliem. Uniknya, tema yang diusung dalam tari ini bukan tentang dendam atau permusuhan melainkan sesuatu yang bersifat positif yang populer dengan sebutan Yogotak Hubuluk Motog Hanorogo (harapan akan hari esok yang harus lebih baik dari hari ini).

Festival Lembah Baliem berlangsung sekitar 3 hari dan diselenggarakan setiap bulan Agustus. Tari ini biasanya diikuti oleh sekitar 26 suku yang mendiami sekitar Lembah Baliem. Masing-masing peserta terdiri dari 30 – 50 kelompok dan tiap kelompoknya berjumlah 50 – 100 orang. Para peserta masing-masing bersenjata tombak, panah dan parang, lengkap dengan pakaian tradisional dan lukisan di wajah serta pernak pernik perang.

Selain tari perang, Festival Budaya Lembah Baliem menawarkan 6 acara penting lain yang hampir selalu digelar. Salah satunya adalah pertunjukan Pikon atau musik tradisional yang digelar untuk menghibur seluruh pengunjung. Terbuat dari hite atau kayu, lagu-lagu yang dimainkan dengan Pikon mengisahkan tentang kehidupan manusia. Uniknya, meski kelihatan mudah, temyata tidak semua orang Papua mampu memainkan alat musik ini. Alat musik ini mampu memunculkan suara-suara yang nyaris sama dengan suara binatang.

Beragam permainan tradisional turut memeriahkan Festival Lembah Baliem. Acara ini tak hanya dapat disaksikan, tapi bila pengunjung atau para wisatawan berminat, bisa turut serta dalam permainan. Memanah, melempar sege alias tongkat ke target yang telah ditentukan, puradan, permainan menggulirkan roda dari anyaman rotan dan sikoko, sebuah lomba melemparkan pion ke sasaran yang telah ditentukan, adalah permainan yang kerap ditampilkan dalam festival ini.

Tak jarang, Festival Lembah Baliem bertambah marak berkat acara pendukung yang tak kalah seru dan unik lainnya. Sebut saja kerapan babi atau lomba pacuan babi, lomba menganyam serta beragam acara lainnya.

Real Challenge

https://i0.wp.com/liburan.info/images/stories/papua3.jpg

Untuk menyaksikan keunikan yang ditawarkan Festival Budaya Lembah Baliem serta keelokan alam Papua merupakan tantangan tersendiri dan membutuhkan persiapan yang khusus. Perjalanan panjang yang harus ditempuh dari Jakarta – Wamena, jelas membutuhkan biaya, waktu serta resiko yang tergolong tinggi. Belum lagi, kondisi selama di sana, yang bisa dikatakan, jauh dari segala fasilitas yang mampu memanjakan tubuh. Sudah pasti hal itu akan menambah panjang daftar challenge yang harus dihadapi.

Namun, semua keraguan dan kesulitan itu akan terbayar lunas usai menyaksikan seluruh rangkaian acara festival yang unik di Lembah Baliem. Sebab hanya di sinilah Anda bisa menyaksikan secara langsung kehidupan Suku Dani yang sesungguhnya. Di sini pula Anda dapat menyatu dan berbaur dengan masyarakat yang masih memegang teguh tradisinya yang mungkin jauh berbeda dengan apa yang kita miliki. Semua yang dijumpai di Lembah Baliem pastinya akan membuat perjalanan Anda akan selalu terkenang sepanjang masa.

Sumber: Majalah Tamasya

Pos ini dipublikasikan di Anthropologi, Indonesia, Suku Dalam dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s